Mencumbu asa yang tlah terenggut pergi..
Hilang seperti molekul yang menguap begitu saja.. Perlahan ku tapaki selangkah demi selangkah untuk meneruskan perjalananku ini. Bimbang, tak bertuan, berat, tapi aku harus melakukannya. Sekali lagi.
Sesekali ku menoleh ke belakang, melihat sisa2 abu yang ku tebar. Tak dapat hilang dari ingatan walaupun aku berusaha sekuat tenaga untuk tetap menghapusnya.
Setiap langkah yang ku tapaki, mengingatkan setiap memori. Sesekali ku hapus air mata ini dengan telapak tanganku. Mencoba melupakan, mengeringkan smua luka yang ada, membakar dan menghancurkan masa2 pembelajaran yang tak kunjung berakhir.
Aku terus melangkah ke depan, menciptakan secarik obsesi-obsesi untuk ku selesaikan. Obsesi dalam sebuah tanggung jawab, yang berusaha membantuku melepaskan penat. Melakukan hal-hal bodoh yang ku sebut kebahagiaan dan kebebasan. Aku berusaha menjauh, membuktikan sesuatu yang sedikit ragu untuk ku wujudkan.
Orangtua..
Ya mereka obsesiku.. sepasang kekasih yang sangat setia dibandingkan org2 yang bergulir hadir dalam kehidupan.. Aku menyesalinya saat ku acuhkan sbuah tanda kuning. Tapi saat aku gagal, tangannya selalu terbuka. Terbuka lebar untuk mengurangi sakit yang ku rasakan. Nyaman , damai, tak ku temukan cercaan dan hinaan.
Masa ku bergulir cepat, hingga aku sedikit tak menghiraukan mereka dalam kesendirian. Tapi aku tau satu hal, mereka selalu mencemaskan keberadaanku.. Aku tak berharap apa2. Saat Tuhan memberikan ku sbuah ujian untuk yang kesekian kalinya.
Ah,, aku bosan dengan lagu keputus asaanku ini..
Mungkin dalam beberapa hari aku akan berhenti menulis dan mengambil waktuku sendiri..
Dan, ku tuliskan lembaran yang baru..
Sehancur apapun aku, sesukses apapun aku, aku hanyalah sebutir debu yang terkadang hinggap diantara puing-puing tumpukan masa yang entah terbawa hingga kemana.
Dan hingga pada masanya aku harus kembali kepada Yang Maha Kuasa..
Ya.. Aku merindukan Mu Tuhan.. dan atas semua debu yang ku miliki...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar