Malam semu yang tak lagi baru..
Aku duduk menanti rembulan yang mulai redup..
Aku menjauh seraya tak lagi ingin terengkuh..
Terhenti dalam persimpangan yang semakin suram..
Berteman bongkah yang semakin lapuk dan bau untuk ku genggam..
Entah harus aku letakkan dimana bongkah ini..
Seraya meyakini hati untuk tetap bertahan..
Mentari tak lagi bersinar pijar..
Semakin meninggi oleh rotasi yang tergeser perilaku jaman..
Jaman Suram..
Suram akan teriakan mayat hidup yang mengharap kebahagiaan..
Terdorong atau tertarik..
Mungkin sudah menjadi suatu keputusan setiap insan dalam kehidupan..
Fana..
Aku hanya duduk terdiam dalam persimpangan jalan..
Mendekap bongkah tertanam..
Berharap hujan turun dengan lantang dan aku bebaskan sekali lagi duri yang tersimpan..
Tak peduli,, tak mengharap insan itu peduli..
Tak mengapa,, karna aku tak butuh jamuan ramu yang berisi endapan didasarnya..
Kemudian.. harus ku pilih jalan yg mana dalam persimpangan?
Menutup mata, menghela nafas dan berharap setetes bongkah tak lagi tumpah..
Aku hanya LELAH...
biarkan saja jalan ini semakin usang dan gersang..
biarkan saja tanah ini semakin tandus dan kering kerontang..
biarkan saja mentari itu berlari semakin jauh dan menghilang..
biarkan saja hujan itu runtuh dan menghujam badan...
aku trima..
aku trima atas persimpangan jalan yang tak lagi nyata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar